Ketika Alam dan Waktu Bertemu
Sulawesi Selatan tidak hanya tentang pantai dan kota pelabuhan. Di balik hiruk-pikuk Makassar, sekitar satu jam perjalanan ke arah utara, bentang alam di kawasan Maros dan Pangkep menyambut dengan tenang: bukit kapur menjulang seperti menara, sungai mengalir pelan di antara sawah, dan gua-gua sunyi yang menyimpan kisah ribuan generasi manusia. Di sini, alam tidak dipamerkan—ia dihadirkan apa adanya, mengajak siapa pun untuk berjalan lebih pelan dan mendengar cerita yang selama ini tersembunyi.
Sebuah kawasan yang menyimpan kisah bumi, manusia, dan alam dalam satu lanskap yang nyaris tak berubah selama jutaan tahun. Geopark Maros–Pangkep adalah ruang di mana waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi kesempatan bagi siapa pun untuk menyelami keindahan yang lahir jauh sebelum peradaban modern mengenal kata “wisata”
Geopark Maros–Pangkep bukan hanya ruang wisata, tetapi ruang perenungan. Tempat di mana waktu seolah berhenti, dan kita kembali diingatkan bahwa bumi telah lebih dulu hidup jauh sebelum kita datang.
Secara administratif, geopark ini berada di dua kabupaten, yakni Maros dan Pangkep. Kawasannya mencakup daratan seluas lebih dari 2.200 kilometer persegi dan wilayah laut yang bahkan lebih luas, sekitar 2.800 kilometer persegi. Perpaduan darat dan laut inilah yang menjadikan Maros–Pangkep sebagai kawasan unik—mulai dari perbukitan karst raksasa, gua-gua purba, sungai, sawah, hingga gugusan pulau di Spermonde.
Keunikan Alam, Aktivitas, dan Cerita di Baliknya
Menuju Pengakuan Dunia: Geopark yang Dijaga Bersama
Pada pertengahan tahun 2020, Geopark Maros–Pangkep diajukan sebagai kandidat UNESCO Global Geopark bersama 14 geopark nasional lainnya di Indonesia. Dari proses seleksi tersebut, Maros–Pangkep akhirnya terpilih sebagai salah satu kawasan yang memenuhi persyaratan dan terus didorong menuju pengakuan global.

Pengakuan geopark ini bukan sekadar label prestisius. Lebih dari itu, geopark menjadi model pengembangan pariwisata berbasis kelestarian lingkungan, penguatan budaya lokal, serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat sekitar. Penilaian UNESCO sendiri berfokus pada tiga aspek utama: lingkungan, budaya, dan sosial.
Bagi aktivis lingkungan dan pengelola kawasan, geopark adalah jaminan bahwa keindahan alam tidak dieksploitasi, melainkan dirawat dan diwariskan.
Menyusuri Sungai di Antara Menara Karst
Pengalaman pertama yang paling membekas saat mengunjungi Geopark Maros–Pangkep adalah menyusuri Sungai Pute dengan perahu kecil. Sungai ini menjadi jalur transportasi utama warga, sekaligus jalur wisata favorit bagi pengunjung.

Di sepanjang perjalanan, deretan bukit karst menjulang tinggi menyerupai menara alami. Bentuknya yang unik tercipta dari proses geologi selama jutaan tahun, saat kawasan ini masih berupa dasar laut. Seiring waktu, struktur batu kapur yang menyerupai terumbu karang terangkat dan membentuk daratan dengan lanskap dramatis.
Di antara karst, tampak hamparan sawah, perkampungan kecil, dan aktivitas warga yang hidup berdampingan dengan alam tanpa mengubah wajah aslinya.
Lukisan Gua: Suara Sunyi Manusia Purba
Maros–Pangkep dikenal sebagai salah satu kawasan dengan sistem gua terlengkap di Indonesia. Lebih dari 400 gua ditemukan di kawasan karst ini, sebagian di antaranya menyimpan lukisan dinding tertua di dunia.

Di Leang Timpuseng, ditemukan lukisan cap tangan dan babi rusa berusia sekitar 40.000 tahun. Rekor ini kemudian terpecahkan oleh penemuan lukisan babi kutil Sulawesi di Leang Tedongnge yang diperkirakan berumur 45.500 tahun. Lukisan ini menggunakan pigmen oker merah dan menggambarkan babi jantan dengan ciri khas kutil wajah.
Menariknya, Leang Tedongnge terletak di lembah terpencil dan sempat tidak diketahui keberadaannya oleh warga sekitar hingga ditemukan pada 2017. Lukisan-lukisan ini menjadi bukti bahwa Sulawesi Selatan pernah menjadi pusat peradaban manusia purba yang maju dalam ekspresi seni.
Ribuan Kelelawar dan Rantai Kehidupan
Menjelang senja, pengunjung bisa menyaksikan fenomena alam yang jarang ditemui: ribuan kelelawar bermigrasi keluar dari gua. Setiap sore, kelelawar-kelelawar ini terbang beriringan mencari makan, lalu kembali ke gua saat pagi tiba.
Di momen tertentu, terjadi interaksi alami antara kelelawar dan burung elang yang memburu mangsanya di udara. Pemandangan ini menjadi pengingat bahwa Geopark Maros–Pangkep bukan sekadar tempat indah, tetapi juga ekosistem hidup yang bekerja secara alami.
Kerajaan Kupu-Kupu dan Satwa Endemik
Tak jauh dari kawasan karst, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung menjadi rumah bagi ratusan spesies kupu-kupu. Sebanyak 245 spesies tercatat hidup di kawasan ini, menjadikannya dijuluki The Kingdom of Butterfly.
Beberapa spesies bahkan dilindungi dan hanya bisa ditemukan di Maros–Pangkep. Selain kupu-kupu, kawasan ini juga menjadi habitat Soa-soa (Hydrosaurus celebensis), kadal endemik Sulawesi yang kerap disebut sebagai kadal purba. Hewan ini biasanya ditemukan di sekitar sungai, memangsa ikan kecil dan serangga.
Karst Terbesar Kedua di Dunia
Kawasan karst Maros–Pangkep dikenal sebagai yang terbesar dan terindah kedua di dunia setelah China Selatan. Total luas kawasan karst mencapai puluhan ribu hektare, sebagian besar berada dalam kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung.
Keindahan dan keunikan karst ini telah menarik perhatian dunia sejak lama. Salah satunya adalah Alfred Russel Wallace, naturalis Inggris yang mengunjungi kawasan ini pada 1857. Dalam catatan perjalanannya, Wallace menulis kekagumannya terhadap ngarai, tebing, dan bukit kapur yang belum pernah ia temui di tempat lain di Nusantara.
Dari Darat ke Laut: Pesona Spermonde
Geopark Maros–Pangkep juga mencakup wilayah laut dengan gugusan Kepulauan Spermonde. Lebih dari 120 pulau tersebar di kawasan ini, menawarkan keindahan bawah laut yang luar biasa.
Pulau Kapoposang dikenal sebagai salah satu surga diving di Sulawesi Selatan. Terumbu karang yang sehat, ikan warna-warni, dan visibilitas air yang jernih menjadikan kawasan ini bak akuarium alami.
Penutup: Datang untuk Menikmati, Pulang untuk Menjaga
Geopark Maros–Pangkep bukan sekadar destinasi wisata, melainkan ruang pembelajaran tentang hubungan manusia dan alam. Di sini, keindahan tidak berdiri sendiri, melainkan berdampingan dengan tanggung jawab untuk menjaga.
Datanglah dengan rasa kagum, namun pulanglah dengan kesadaran. Menjaga kebersihan, menghormati budaya lokal, dan tidak merusak alam adalah cara sederhana untuk memastikan bahwa kisah purba dan keindahan Geopark Maros–Pangkep tetap hidup, bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk masa depan Sulawesi Selatan.






