Budaya

Di Balik Layar Putih Sandeq, Ada Cerita Panjang Orang Mandar

Pagi belum terlalu tinggi ketika layar-layar putih itu mulai mengembang di atas Laut Mandar. Dari kejauhan, tubuh perahu yang ramping terlihat seperti garis kecil yang sedang membelah birunya laut.

Tidak ada suara mesin yang meraung. Hanya angin, ombak, dan layar yang bekerja membawa perahu bergerak semakin jauh dari garis pantai.

Perahu itu adalah sandeq, atau lopi sandeq, salah satu warisan bahari masyarakat Mandar yang hingga kini menjadi simbol kuat identitas pesisir Sulawesi Barat.

Bentuknya memang sederhana. Namun di balik lambung yang ramping, layar segitiga, dan dua cadik yang menjadi ciri khasnya, tersimpan cerita panjang tentang manusia yang sejak dahulu belajar membaca laut.

Dari Laut, Orang Mandar Belajar Bertahan

Bagi masyarakat Mandar, laut bukan sekadar tempat mencari ikan.

Laut adalah ruang hidup.

Dari laut, masyarakat mendapatkan penghidupan. Dari laut pula lahir pengetahuan tentang angin, ombak, musim, arah perjalanan, hingga cara membuat perahu yang mampu bertahan di perairan terbuka.

Tidak mengherankan jika orang Mandar sejak lama dikenal sebagai pelaut ulung.

Dalam bukunya The Bugis, antropolog Christian Pelras menggambarkan kehebatan pelaut Mandar yang tidak semata-mata bergantung pada teknologi canggih. Mereka justru mengembangkan pengetahuan dan teknologi lokal berdasarkan pengalaman menghadapi lingkungan laut.

Salah satu warisan penting dari pengetahuan itu adalah sandeq.

Perahu ini bukan hasil dari satu penemuan dalam semalam. Ia lahir dari proses panjang, dari pengalaman para pelaut dan pembuat perahu yang terus mencari bentuk paling sesuai untuk menghadapi laut.

Sandeq Lahir dari Sebuah Perjalanan Panjang

Sebelum sandeq dikenal seperti sekarang, masyarakat Mandar telah menggunakan berbagai jenis perahu tradisional, antara lain baqgo, palari, lambo, dan pakur.

Pakur menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan menuju lahirnya sandeq.

Pada masa lalu, pakur digunakan untuk berbagai aktivitas pelayaran, termasuk mengangkut kopra hingga ke Pulau Jawa. Bentuknya lebih lebar daripada sandeq dan menggunakan layar model tanjaq berbentuk segi empat.

Namun perjalanan laut mempertemukan pelaut Mandar dengan berbagai kebudayaan dan teknologi pelayaran lain.

Ketika berlayar ke Makassar, Surabaya, bahkan Tumasik atau Singapura, mereka melihat berbagai bentuk kapal dan layar yang digunakan pelaut dari luar.

Salah satunya adalah layar berbentuk segitiga.

Alih-alih hanya meniru, masyarakat Mandar mengolah pengetahuan tersebut dan menyesuaikannya dengan kebutuhan mereka sendiri.

Dari proses itulah sandeq kemudian berkembang.

Sekitar tahun 1930-an, pembuat perahu Mandar mulai membuat perahu dengan layar segitiga yang lebih ramping dan lincah. Pakur perlahan ditinggalkan, sementara sandeq semakin dikenal.

Ketika Sebuah Perahu Harus Bisa Membaca Laut

Sandeq dirancang bukan hanya agar terlihat indah.

Ia harus mampu bergerak cepat.

Kata sandeq sendiri berkaitan dengan makna “runcing”, sesuai dengan bentuk haluan perahu yang tajam. Lambungnya yang ramping membantu perahu membelah air, sementara layar segitiga memungkinkan sandeq memanfaatkan tenaga angin.

Di sisi kiri dan kanan terdapat cadik yang oleh masyarakat Mandar disebut baratang.

Cadik inilah yang membantu menjaga keseimbangan perahu ketika menghadapi angin dan ombak.

Perpaduan antara lambung ramping, layar, dan cadik membuat sandeq mampu melaju dengan kecepatan sekitar 15–20 knot dalam kondisi tertentu.

Bagi sebuah perahu tradisional yang bergerak tanpa mesin, kemampuan tersebut tentu bukan hal kecil.

Namun kehebatan sandeq tidak hanya berada pada bentuk fisiknya.

Ada pengetahuan yang tidak terlihat.

Pelaut harus memahami angin. Mereka harus membaca ombak. Mereka perlu tahu kapan harus mengembangkan layar dan kapan harus mengubah arah.

Dengan kata lain, sandeq tidak hanya dibuat untuk mengarungi laut. Ia dibuat oleh orang-orang yang memahami laut.

Kayu, Tangan, dan Pengetahuan yang Diwariskan

Membuat sandeq juga membutuhkan ketelitian.

Kayu yang digunakan dipilih dengan hati-hati. Beberapa jenis kayu seperti tippulu, palapi, dan maqdang dikenal digunakan dalam pembuatan perahu ini.

Kayu-kayu tersebut berasal dari wilayah Mamuju dan dipilih karena memiliki karakter yang dianggap sesuai untuk kebutuhan perahu.

Dalam tradisi pembuatan perahu Mandar, proses tersebut juga tidak semata-mata berkaitan dengan teknik.

Ada keyakinan dan pengetahuan lokal yang menyertai pemilihan waktu, penebangan, hingga pengolahan kayu.

Dalam tradisi tertentu, fase bulan bahkan menjadi salah satu pertimbangan.

Bagi masyarakat modern, hal tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun jika dilihat lebih jauh, kita bisa menemukan sebuah cara pandang yang menarik: manusia tidak berdiri sendiri ketika membuat sesuatu.

Ada alam yang harus dipahami dan dihormati.

Pambusuang dan Jejak Para Pembuat Sandeq

Cerita tentang sandeq juga tidak bisa dilepaskan dari kampung-kampung yang sejak dahulu menjadi tempat para pembuat perahu mengembangkan keahliannya.

Desa Pambusuang di Kecamatan Balanipa dan Desa Karama di Kecamatan Tinambung, Kabupaten Polewali Mandar, dikenal sebagai bagian dari pusat pembuatan sandeq.

Di tempat seperti inilah keterampilan membuat perahu tidak hanya menjadi pekerjaan.

Ia menjadi pengetahuan keluarga dan komunitas.

Seorang anak bisa belajar dengan melihat orang yang lebih tua bekerja. Ia mengenali bentuk kayu, memahami bagian-bagian perahu, dan perlahan mengetahui bagaimana sebuah perahu harus dibuat agar mampu menghadapi laut.

Pengetahuan semacam ini tidak selalu ditemukan dalam buku.

Sebagiannya hidup melalui tangan, pengalaman, dan cerita.

Itulah sebabnya ketika sebuah perahu tradisional mulai hilang, yang sebenarnya terancam bukan hanya bentuk perahunya.

Pengetahuan di baliknya juga ikut terancam.

Dari Perahu Nelayan Menjadi Simbol Budaya

Dahulu, sandeq benar-benar digunakan untuk kehidupan sehari-hari.

Perahu ini menjadi alat bagi nelayan Mandar untuk mencari ikan di pesisir maupun laut lepas.

Ada sandeq pangoli yang digunakan di kawasan pesisir, sandeq paroppo untuk laut lepas, dan sandeq potangnga yang berkaitan dengan aktivitas menangkap ikan terbang.

Namun zaman berubah.

Kapal bermesin membuat aktivitas melaut menjadi lebih praktis. Nelayan dapat bergerak tanpa sepenuhnya bergantung pada angin dan mampu membawa hasil tangkapan lebih banyak.

Penggunaan sandeq untuk menangkap ikan pun semakin berkurang.

Sekitar tahun 2000, disebut sebagai periode ketika sandeq terakhir digunakan untuk aktivitas penangkapan ikan.

Tetapi berkurangnya fungsi ekonomi tidak serta-merta membuat sandeq kehilangan arti.

Justru sejak itu, sandeq semakin kuat sebagai simbol budaya dan identitas masyarakat Mandar.

Ketika Layar Putih Kembali Mengembang

Salah satu cara masyarakat menjaga keberadaan sandeq adalah melalui perlombaan.

Dalam berbagai kegiatan dan perlombaan sandeq, perahu-perahu tradisional itu kembali memenuhi laut dengan layar putihnya.

Di atas perahu, keterampilan para awak diuji.

Mereka harus memahami angin, menjaga keseimbangan, mengatur layar, dan membaca kondisi laut.

Salah satu tradisi perlombaan sandeq bahkan menempuh jarak ratusan kilometer dan mempertemukan para pelaut dari Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan.

Suasananya bukan hanya tentang siapa yang menjadi pemenang.

Ada pertemuan, silaturahmi, kebanggaan, dan kesempatan bagi generasi baru untuk kembali mengenal warisan leluhurnya.

Di situlah sandeq menemukan kehidupan keduanya.

Jika dahulu ia digunakan terutama untuk mencari penghidupan di laut, kini ia juga menjadi cara masyarakat menceritakan siapa diri mereka.

Menjaga Sandeq Bukan Berarti Membawanya ke Masa Lalu

Sandeq memberi kita pelajaran sederhana tentang bagaimana sebuah budaya bisa bertahan.

Budaya tidak selalu harus dipertahankan dengan membuatnya tetap persis seperti masa lalu.

Yang jauh lebih penting adalah menjaga pengetahuan, nilai, dan cerita yang ada di baliknya.

Sandeq menunjukkan bagaimana masyarakat Mandar membaca alam, beradaptasi dengan perubahan, dan menciptakan teknologi berdasarkan kebutuhan mereka sendiri.

Ia juga mengingatkan bahwa inovasi bukan hanya milik zaman modern.

Jauh sebelum teknologi digital memenuhi kehidupan kita, masyarakat pesisir sudah melakukan inovasi dengan cara mereka sendiri.

Kini tantangannya adalah memastikan generasi muda tidak hanya mengenal sandeq sebagai perahu putih yang muncul dalam festival.

Mereka perlu tahu mengapa perahu itu dibuat, siapa yang membuatnya, bagaimana ia digunakan, dan mengapa masyarakat Mandar begitu dekat dengannya.

Sebab pada akhirnya, menjaga budaya bukan berarti membuatnya berhenti di masa lalu. Menjaga budaya berarti memastikan ceritanya masih punya tempat untuk hidup di masa depan.

Dan selama layar putih sandeq masih mengembang di Laut Mandar, cerita tentang keberanian, pengetahuan, dan identitas orang Mandar akan terus berlayar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button