AlamWisata

Geopark Maros–Pangkep: Jejak Purba, Karst Menjulang, dan Rasa Tenang di Sulsel

Saat Alam Mengajak Kita Mendengar

Ada tempat-tempat yang tak perlu banyak suara untuk membuat kita merasa utuh.
Geopark Maros–Pangkep adalah salah satunya.

Sekitar satu jam perjalanan dari Makassar, bentang alam di kawasan Maros dan Pangkep menyambut dengan tenang: bukit kapur menjulang seperti menara, sungai mengalir pelan di antara sawah, dan gua-gua sunyi yang menyimpan kisah ribuan generasi manusia. Di sini, alam tidak dipamerkan—ia dihadirkan apa adanya, mengajak siapa pun untuk berjalan lebih pelan dan mendengar cerita yang selama ini tersembunyi.

Geopark Maros–Pangkep bukan hanya ruang wisata, tetapi ruang perenungan. Tempat di mana waktu seolah berhenti, dan kita kembali diingatkan bahwa bumi telah lebih dulu hidup jauh sebelum kita datang.

Keindahan yang Dijaga, Cerita yang Hidup

Dari Usulan ke Pengakuan Dunia

Pada 2020, Geopark Maros–Pangkep diajukan sebagai kandidat UNESCO Global Geopark bersama 14 taman bumi nasional lainnya. Dari proses seleksi panjang tersebut, Maros–Pangkep terpilih sebagai salah satu kawasan yang memenuhi syarat dan kini diakui sebagai bagian dari jaringan geopark dunia.

Namun bagi masyarakat lokal dan para pegiat lingkungan, pengakuan ini bukan tentang gelar. Ini adalah tentang komitmen bersama: menjaga alam, merawat budaya, dan memastikan bahwa pariwisata tumbuh tanpa merusak.

UNESCO menilai geopark dari tiga sisi—lingkungan, budaya, dan sosial—tiga hal yang sejak lama telah hidup berdampingan di Maros–Pangkep.

Sungai, Karst, dan Perjalanan yang Mengalir

Menyusuri Sungai Pute dengan perahu kecil menjadi pengalaman yang kerap membekas. Air mengalir tenang, memantulkan bayangan bukit karst raksasa yang berdiri seperti penjaga lembah.

geopark maros pangkep
FB Sandiaga Uno

Karst-karst ini terbentuk dari proses alam jutaan tahun lalu, saat kawasan ini masih berupa laut. Batu kapur yang dahulu menjadi dasar samudra kini menjelma daratan dengan bentuk yang nyaris tak tersentuh zaman.

Di sela perjalanan, terlihat kehidupan warga yang sederhana: bertani, menangkap ikan, dan menjaga hubungan dengan alam tanpa harus menguasainya.

Lukisan Gua: Pesan dari Masa Lalu

Di balik bukit-bukit kapur itu, tersembunyi ratusan gua. Beberapa di antaranya menyimpan lukisan purba yang kini dikenal sebagai lukisan tertua di dunia.

Cap tangan manusia dan gambar babi kutil Sulawesi di gua Leang Timpuseng dan Leang Tedongnge diperkirakan berusia hingga 45.500 tahun. Lukisan-lukisan ini bukan sekadar artefak, tetapi pesan sunyi dari manusia purba—tentang keberadaan, tentang hubungan dengan alam, dan tentang kehidupan yang sederhana.

Menariknya, sebagian gua ini bahkan baru diketahui beberapa tahun terakhir, berada di lembah terpencil yang nyaris terisolasi dari dunia luar.

Senja dan Ribuan Kelelawar

Saat matahari mulai turun, langit Maros–Pangkep kembali bercerita. Ribuan kelelawar keluar dari gua, membentuk arus hitam yang bergerak perlahan di udara.

Di saat tertentu, burung elang menyambar di antara kepakan sayap, menciptakan rantai kehidupan yang berlangsung alami tanpa campur tangan manusia. Pemandangan ini bukan tontonan, melainkan pengingat—bahwa alam bekerja dengan caranya sendiri.

Kerajaan Kupu-Kupu dan Makhluk Purba

Tak jauh dari kawasan karst, Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung dikenal sebagai Kerajaan Kupu-Kupu. Ratusan spesies hidup dan berkembang di sini, beberapa di antaranya hanya bisa ditemukan di Maros–Pangkep.

Selain itu, hidup pula Soa-soa, kadal endemik Sulawesi yang sering disebut sebagai kadal purba. Kehadirannya menjadi simbol bahwa kawasan ini bukan sekadar indah, tetapi juga penting bagi keberlangsungan kehidupan.

Karst, Laut, dan Jejak Penjelajah Dunia

Maros–Pangkep dikenal sebagai kawasan karst terbesar dan terindah kedua di dunia setelah China Selatan. Keindahan ini bahkan telah memikat Alfred Russel Wallace pada abad ke-19.

Dari daratan, cerita berlanjut ke laut. Gugusan Kepulauan Spermonde dengan ratusan pulau dan terumbu karang menghadirkan dunia bawah laut yang tenang dan memukau. Pulau Kapoposang menjadi ruang bagi penyelam untuk menyelami keindahan yang nyaris tak terjamah.

Penutup: Datang dengan Rasa, Pulang dengan Kesadaran

Geopark Maros–Pangkep mengajarkan bahwa keindahan tidak selalu perlu diramaikan. Kadang, ia cukup dijaga.

Datanglah bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk merasa. Nikmati alamnya, dengarkan ceritanya, dan pulanglah dengan kesadaran untuk tidak meninggalkan jejak yang merusak. Karena di Sulawesi Selatan, alam bukan sekadar latar—ia adalah bagian dari identitas dan jiwa.

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button