Dari Enrekang untuk Dunia: Desa Bone-Bone Sukses Bangkit Jadi Kawasan Bebas Rokok

Di tengah budaya merokok yang begitu kuat di Indonesia, sebuah desa kecil di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, justru memilih jalan berbeda. Desa Bone-Bone berhasil membangun identitas sebagai desa bebas rokok, bukan karena paksaan dari luar, melainkan karena kesadaran dan kesepakatan bersama warganya. Langkah ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa lahir dari keputusan kolektif yang sederhana—terutama ketika masyarakat ingin keluar dari jerat masalah kesehatan dan kemiskinan.
Kesadaran Warga yang Menginspirasi
Tidak sulit menemukan perokok di Indonesia. Bahkan menurut data World Health Organization (WHO), Indonesia termasuk negara dengan jumlah perokok terbesar di dunia. Ada sekitar 72,8 persen pria dan 1,8 persen wanita berumur 15 tahun ke atas yang diidentifikasi sebagai perokok. Data lain dari Tobacco Atlas pada 2015 juga mencatat jumlah pria perokok Indonesia di atas usia 15 tahun mencapai lebih dari 53 juta, menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan angka perokok tertinggi setelah Cina dan Rusia.
Kondisi ini menunjukkan betapa kuatnya budaya merokok di Indonesia yang semakin sulit dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, rokok membawa banyak risiko kesehatan. Tobacco Atlas juga mencatat lebih dari 217.000 orang meninggal akibat penyakit terkait rokok.
Namun, situasi itu tidak berlaku di Desa Bone-Bone, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Desa di daerah pegunungan ini dalam 11 tahun terakhir dikenal sebagai desa bebas rokok. Menariknya, langkah itu bukan hanya untuk kesehatan, tetapi juga karena desa melihat rokok sebagai salah satu penyebab sulitnya masyarakat keluar dari kemiskinan.
Abdul Wahid, Kepala Desa Bone-Bone, menyebut lebih dari 800 jiwa warganya masih tetap tidak merokok setelah larangan diterapkan secara total pada 2005. Di tengah kebiasaan merokok yang umum di Indonesia, capaian ini terasa seperti angin segar dari pegunungan Sulsel.
“Kami tidak bisa membangun desa dari segi pendidikan kalau masyarakat masih tetap merokok,” ujar Abdul Wahid, mengingat kembali pesan kepala desa sebelumnya kepada warga.
Dari Ceramah ke Gerakan Sosial
Kisah Bone-Bone bermula dari langkah sederhana: sebuah ceramah pemuka agama pada tahun 2000 yang membahas bahaya rokok bagi kesehatan dan kehidupan sosial. Ceramah itu membekas, apalagi saat itu mulai banyak anak sekolah yang sudah merokok. Pengeluaran rokok juga dinilai tidak sebanding dengan pendapatan warga.
Mantan Kepala Desa Bone-Bone, Muhammad Idris, menjadi sosok penting yang menangkap kegelisahan itu. Ia prihatin karena sebelum tahun 2000 sekitar 70 persen warganya adalah perokok. Bahkan, menurut penuturan Abdul Wahid, saat itu anak-anak pun banyak yang merokok.
Tingginya jumlah perokok ini diperkirakan Idris menjadi salah satu penyebab kemiskinan di desa yang terletak sekitar 300 kilometer dari Makassar tersebut. Ia kemudian mulai mengumpulkan warga, mendengar pandangan masyarakat, dan merumuskan langkah bersama.
Dalam tulisan Mappeaty Nyorong dalam Jurnal MKMI, disebutkan Idris melakukan survei pendapat warga tentang kebiasaan merokok. Ia berdiskusi dengan tokoh masyarakat dan pemuka agama untuk merumuskan kebijakan kawasan bebas rokok. Warga diminta perlahan-lahan untuk tidak menjual dan tidak merokok di desa tersebut.
Prosesnya tidak instan. Pada tahun 2000 larangan mulai diterapkan secara bertahap, dan baru berjalan total lima tahun kemudian. Hingga akhirnya pada 2005, seluruh warga Bone-Bone berhenti merokok. Program ini berhasil membuat desa tersebut menjadi kawasan tanpa asap rokok hingga saat ini.
Aturan Tegas, Tapi Penuh Kesadaran
Bone-Bone bukan desa yang setengah-setengah. Larangan rokok di sana bersifat mutlak. Tidak ada smoking area atau ruang khusus merokok. Dalam Peraturan Desa (Perdes) No.1 Tahun 2009, setiap orang dilarang memproduksi, menjual, mengiklankan, maupun mempromosikan rokok di seluruh wilayah desa.
Aturan tersebut juga berlaku bagi wisatawan. Siapa pun yang datang wajib menghormati aturan, bahkan harus “puasa merokok” selama berada di Bone-Bone. Jika ada warga yang ingin merokok, maka ia harus keluar dari wilayah desa.
Kedisiplinan ini perlahan membentuk kebiasaan baru. Banyak mantan perokok berat yang akhirnya berhasil berhenti total, bukan karena takut, tetapi karena lingkungan sosial desa sudah terbentuk menjadi ruang yang sehat.
Tantangan Terberat: Perantau yang Pulang Kampung
Meski berhasil mempertahankan desa bebas rokok selama bertahun-tahun, Abdul Wahid mengakui ada tantangan yang terus muncul: warga perantau yang pulang kampung.
“Salah satu tantangan berat buat saya adalah anak-anak perantau. Biasanya ke kampung orang bertahun-tahun dan datang kembali… biasanya langsung merokok saat datang lagi,” kata Abdul.
Bagi mereka, rokok sering dianggap kebiasaan yang sudah melekat setelah lama hidup di luar desa. Namun Bone-Bone tetap menjaga prinsipnya: aturan harus dihormati siapa pun.
Sanksi Sosial yang Membentuk Karakter Desa
Jika ada warga yang melanggar, sanksinya bukan denda besar atau hukuman keras. Bone-Bone menerapkan sanksi moral: pelanggar akan diminta bekerja tanpa imbalan untuk fasilitas umum seperti masjid, jalan desa, sekolah, kantor desa, hingga poskesdes.
Abdul Wahid juga menyebut para perantau yang melanggar biasanya ditegur terlebih dahulu. Jika masih melanggar, sanksi sosial diberlakukan.
“Sanksinya biasa ditegur dulu untuk perantau… biasanya sanksi sosial lain adalah membersihkan masjid, memperbaiki jalanan yang rusak untuk kepentingan umum,” ujar Abdul.
Bagi pendatang atau wisatawan yang melanggar, teguran akan diberikan langsung oleh warga. Jika tidak diindahkan, maka pelanggar akan diminta meninggalkan desa.
Sekilas terlihat ringan, namun justru di situlah kekuatan sosial Bone-Bone bekerja: rasa malu dan tanggung jawab komunitas menjadi pengendali utama. Warga cenderung memilih berhenti merokok daripada berulang kali mendapat sanksi moral.
Di berbagai sudut desa, terpampang baliho anti-rokok, bahkan ada tugu besar berbentuk rokok sebagai pengingat. Semua itu bukan sekadar simbol, melainkan bagian dari cara desa menjaga komitmen bersama.
Menjadi Teladan Nasional dan Menarik Perhatian Dunia
Keberhasilan Bone-Bone tidak berhenti di lingkup desa. Abdul Wahid menyebut keberhasilan ini kemudian diikuti oleh bupati, camat, dan sejumlah kepala desa lain. Bone-Bone seperti membuka jalan bahwa kebijakan kesehatan masyarakat bisa dimulai dari akar rumput.

Desa ini juga menjadi salah satu kawasan percontohan nasional untuk desa bebas rokok oleh Kementerian Kesehatan RI. Bahkan, Abdul Wahid mengatakan status bebas rokok tersebut membuat Bone-Bone menjadi lokasi penelitian berbagai institusi luar negeri, termasuk dari Australia dan Jepang.
Dalam skala nasional, isu rokok memang terus menjadi perhatian. Pemerintah Indonesia tengah mengkaji kenaikan harga rokok sebagai upaya melindungi kesehatan masyarakat sekaligus menambah pemasukan negara. Wacana kenaikan harga rokok hingga Rp50.000 sempat muncul, menyusul kajian dari Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia.
Kajian tersebut meneliti dukungan publik terhadap kenaikan harga rokok guna mendanai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) atau BPJS. Bahkan disebutkan bahwa usulan kenaikan harga rokok menjadi dua kali lipat disepakati oleh perokok sendiri.
Di tengah perdebatan besar tentang regulasi rokok, Bone-Bone sudah lebih dulu membuktikan bahwa perubahan bisa terjadi melalui cara yang lebih dekat: kesadaran sosial dan komitmen bersama.
Kisah Desa Bone-Bone adalah potret kuat tentang bagaimana masyarakat Sulawesi Selatan mampu membangun perubahan melalui kesadaran bersama. Mereka tidak hanya melarang rokok, tetapi juga membangun budaya baru yang lebih sehat, lebih hemat, dan lebih peduli generasi muda—bahkan menjadikan langkah ini sebagai salah satu cara melawan kemiskinan.
Dari Bone-Bone, kita belajar bahwa kebijakan besar tidak selalu harus dimulai dari kota atau keputusan nasional. Kadang, perubahan justru lahir dari desa pegunungan yang warganya kompak, berani, dan saling menjaga.
Dan dari tangan masyarakat Bone-Bone, Sulsel kembali menunjukkan satu hal penting: masa depan yang lebih sehat bisa dimulai dari keputusan kecil—asal dijaga dengan gotong royong dan keteguhan hati.



