Berita Baik

Buka Puasa di Masjid Tertua Toraja, Takjil Disiapkan Warga Nasrani

Disclaimer: Cerita tentang kolaborasi lintas iman di Masjid Jami’ Madandan ini sebelumnya dilaporkan oleh Media Kareba Toraja. Kami merangkumnya kembali untuk memperluas gaung praktik baik yang tumbuh dari bumi Toraja—sebuah teladan harmoni yang layak dibagikan.

Menyorot perubahan, prestasi, dan harapan baru dari Sulsel.

Di sebuah sudut tenang Kecamatan Rantetayo, Tana Toraja, tradisi sederhana kembali menghadirkan harapan besar. Masjid Jami’ Madandan, yang dikenal sebagai masjid tertua di Toraja, menggelar buka puasa bersama dengan cara yang menghangatkan hati: menu berbuka disiapkan oleh umat Nasrani setempat. Kolaborasi lintas iman ini bukan sekadar seremoni, melainkan wujud nyata harmoni yang telah terjaga lebih dari seabad.

Tradisi ini menjadi pengingat bahwa di Sulawesi Selatan, toleransi bukan hanya wacana—melainkan praktik hidup yang diwariskan turun-temurun.

Setiap Ramadan, keluarga dari Parenge Madandan yang mayoritas beragama Kristen datang membawa beragam hidangan ke Masjid Jami’. Mereka menata makanan, membantu persiapan, lalu membaur bersama warga Muslim yang menanti waktu berbuka. Tidak ada sekat, tidak ada rasa canggung. Yang ada hanya kebersamaan yang tulus.

Bagi masyarakat Madandan, kebiasaan ini sudah berlangsung lama. Akar sejarahnya bahkan merentang hingga akhir abad ke-19, saat masjid tersebut pertama kali dibangun.

Sejarah Masjid Jami’ Madandan dan Semangat Kebersamaan

Masjid Jami’ Madandan berdiri berkat peran Uttu’ Andi, seorang perantau dari Sidenreng (kini Kabupaten Sidrap) yang datang ke Madandan pada akhir 1800-an. Ia dikenal sebagai pembawa ajaran Islam di wilayah itu. Namun lebih dari itu, ia juga dikenang sebagai figur yang menjunjung tinggi nilai persaudaraan.

Uttu’ Andi menikah dengan perempuan Madandan bernama Rangga. Dari pernikahan ini lahir keturunan yang tumbuh dalam keberagaman keyakinan, tetapi tetap menyatu dalam satu ikatan keluarga besar.

Masjid yang awalnya beberapa kali dipindahkan akhirnya dibangun secara permanen di Madandan. Proses pembangunannya melibatkan masyarakat dari berbagai latar agama. Sejak awal, masjid ini lahir dari semangat gotong royong lintas iman.

Di sinilah nilai kolaborasi itu berakar dan terus tumbuh hingga hari ini.

Tradisi Ramadan yang Menguatkan Persaudaraan

Romba’ Marannu Sombolinggi, tokoh adat sekaligus Ketua AMAN Toraya, menegaskan bahwa tradisi buka puasa bersama yang melibatkan umat Nasrani ini telah berlangsung turun-temurun.

“Sejak dulu kami hidup berdampingan. Kami tetap rukun, saling membantu, dan mengasihi,” ujarnya dengan nada penuh keyakinan.

Menurutnya, jauh sebelum istilah moderasi beragama populer di Indonesia, masyarakat adat Madandan telah lebih dahulu mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Saat azan Magrib berkumandang, umat Muslim berbuka dengan hidangan yang disiapkan saudara-saudara Kristiani mereka. Sementara itu, umat Nasrani ikut merasakan kebahagiaan melihat kebersamaan tersebut. Momen ini menjadi ruang perjumpaan yang memperkuat rasa saling percaya.

Kisah Keluarga yang Menjadi Teladan Toleransi

Potret harmoni ini juga tercermin dalam silsilah keluarga Rangga. Anak Rangga bernama Rukka menikah dengan Herman Saba’, yang dikenal sebagai penerima baptisan pertama di Madandan dan pernah menjabat sebagai Kepala Distrik.

Pernikahan beda agama ini berjalan harmonis. Dari keturunan mereka lahir tokoh-tokoh yang tetap menjaga nilai kebersamaan. Salah satunya adalah Laso’ Sombolinggi, ayah dari Romba’ Marannu Sombolinggi.

Meski kedua orang tua Romba’ telah wafat, penghormatan masyarakat—khususnya umat Islam—kepada keluarga besar ini tetap terasa. Setiap Idul Fitri dan Idul Adha, warga datang bersilaturahmi ke rumah mereka. Begitu pula dalam momen suka dan duka, kunjungan lintas iman menjadi hal yang lumrah.

“Kami sudah seperti saudara. Saling mengunjungi di saat senang maupun susah,” kata Romba’.

Warisan Budaya Sikamali’, Siangga’, na Siangkaran

Saba’ Sombolinggi, cicit Herman Saba’, menyebut bahwa budaya Toraja mengenal prinsip sikamali’, siangga’, na siangkaran—yang berarti saling merindukan, saling menghargai, dan saling menolong.

“Ini adalah budaya kami orang Toraja,” ujarnya dengan haru.

Baginya, menyiapkan santapan berbuka untuk umat Muslim bukanlah sekadar kegiatan sosial, melainkan amanah dari leluhur. Tradisi ini menjadi simbol bahwa perbedaan keyakinan tidak pernah menghalangi rasa persaudaraan.

Peran Tokoh Agama dalam Menguatkan Harmoni

Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Rantetayo, Buhari Pamilangan, turut mengapresiasi kehidupan harmonis di Madandan. Ia menilai semangat yang dirintis keturunan Uttu’ Andi dan Rangga layak menjadi contoh nasional.

“Saya berharap semangat hidup berdampingan ini bisa menjadi role model kerukunan umat beragama di Indonesia, bahkan dunia,” ungkapnya.

Menurutnya, kerukunan yang tumbuh di Madandan bukanlah hasil rekayasa, melainkan buah dari kesadaran bersama bahwa kemanusiaan berada di atas segala perbedaan.

Harmoni yang Berakar, Bukan Sekadar Seremonial

Apa yang terjadi di Madandan bukanlah acara tahunan yang dibuat untuk konsumsi media. Ia adalah praktik hidup yang sederhana namun bermakna. Ketika keluarga Kristen menyiapkan makanan berbuka di masjid, mereka tidak sedang menunjukkan toleransi. Mereka sedang menjalankan tradisi keluarga.

Begitu pula umat Muslim yang selalu datang berkunjung saat hari raya dan peristiwa keluarga lainnya. Tidak ada jarak, tidak ada sekat.

Hubungan mereka telah melampaui definisi formal kerukunan. Mereka sudah seperti saudara kandung yang tumbuh dalam rumah besar bernama Toraja.

Sulsel dan Harapan Baru dari Kearifan Lokal

Di tengah tantangan keberagaman yang kerap mewarnai ruang publik, kisah dari Madandan menghadirkan optimisme. Sulawesi Selatan kembali menunjukkan bahwa kekuatan budaya lokal mampu menjaga persatuan.

Tradisi buka puasa lintas iman di Masjid Jami’ Madandan membuktikan bahwa perubahan sosial tidak selalu datang dari program besar. Ia bisa tumbuh dari dapur-dapur rumah warga, dari tangan-tangan yang menyiapkan makanan dengan tulus, dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.

Dari Madandan, kita belajar bahwa kolaborasi dan kasih sayang adalah fondasi peradaban. Bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan peluang untuk saling mengenal lebih dalam.

Di masjid tertua Toraja itu, di bulan  Ramadan, bukan hanya perut yang terisi saat berbuka. Hati pun dipenuhi rasa syukur karena masih ada ruang-ruang di negeri ini yang merawat persaudaraan dengan begitu indah.

Dari tradisi sederhana ini, kita diingatkan bahwa perubahan besar selalu berawal dari niat baik dan tindakan nyata. Dan Madandan telah membuktikan, harmoni bukan sekadar mimpi—ia hidup, tumbuh, dan terus menginspirasi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button