Berita Baik

Sunyi yang Memberi Ruang: Dari Gerai Burger King Hasanuddin, Makassar Belajar tentang Kesetaraan

Burger King dan Teman Tuli – Di tengah hiruk-pikuk Kota Makassar, sebuah gerai cepat saji di Jalan Sultan Hasanuddin menghadirkan perubahan dengan cara yang tenang. Tanpa sorak-sorai, tanpa panggung besar, Burger King Hasanuddin justru menunjukkan bahwa keberpihakan pada nilai kemanusiaan bisa dimulai dari ruang kerja sehari-hari.

Gerai ini tidak hanya melayani pelanggan, tetapi juga membuka peluang bagi puluhan teman tuli untuk bekerja, tumbuh, dan merasa diakui. Sebuah praktik inklusivitas yang sederhana, namun dampaknya terasa luas.

Dari Kebijakan Nasional ke Jejak Nyata di Makassar

Upaya mempekerjakan penyandang disabilitas bukanlah langkah instan bagi Burger King Indonesia. Berdasarkan keterangan tertulis perusahaan yang dikutip sejumlah media nasional, proses perekrutan insan tuli telah dimulai sejak akhir 2018 dengan membangun sistem ketenagakerjaan dan pelatihan dari awal.

@kusdifrans @burgerking PART 2 nih😇 #deaf #berbagifakta #samasamabelajar ♬ original sound – Kusdifrans

Dalam proses tersebut, perusahaan terlebih dahulu memperdalam pemahaman mengenai ragam disabilitas, menyesuaikan kebutuhan organisasi, serta menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak pendukung, seperti balai latihan kerja dan lembaga pendamping. Dari pengalaman itu, Burger King Indonesia kemudian menyusun panduan internal bertajuk #SunyiBersuara, yang menjadi acuan dalam menciptakan lingkungan kerja inklusif.

Makassar, khususnya gerai di Jalan Sultan Hasanuddin, menjadi salah satu wujud konkret dari kebijakan tersebut.

Gerai Hasanuddin: Ruang Kerja yang Memberi Kesempatan

Berdasarkan penjelasan manajemen gerai yang pernah diberitakan media, Burger King Hasanuddin Makassar mempekerjakan sekitar 25 orang teman tuli, yang jumlahnya mencapai kurang lebih 75 persen dari total karyawan. Mayoritas dari mereka merupakan anak muda asal Makassar dengan rentang usia sekitar 20 tahun.

Gerai ini disebut sebagai gerai kedua di Indonesia yang memiliki komposisi mayoritas pegawai penyandang disabilitas tuli, setelah gerai serupa di Bali. Meski memiliki konsep khusus, pelayanan yang diberikan kepada pelanggan tetap setara dengan gerai Burger King lainnya.

Perbedaannya terletak pada cara berkomunikasi—yang justru menghadirkan pengalaman baru, lebih tenang, dan lebih berempati.

Bahasa Isyarat sebagai Jembatan Interaksi

Dalam praktik pelayanan sehari-hari, komunikasi di gerai Hasanuddin dilakukan melalui bahasa isyarat, papan menu visual, papan tulis kecil, serta isyarat sederhana seperti anggukan dan jempol. Karyawan juga menggunakan pin khusus di seragam mereka untuk menandai bahwa mereka adalah teman tuli.

@burgerking.id Selamat Hari Bahasa Internasional, teruntuk Teman Tuli teruslah berkarya dengan semangat yang tak tergoyahkan! BERSAMA KITA BISA 🤝 #haribahasaisyaratinternasional #bisindo #sunyibersuara #burgerking ♬ original sound – Burger King Indonesia

Berdasarkan penjelasan pihak manajemen, alur pemesanan dirancang agar tetap mudah dipahami pelanggan. Konsumen cukup menunjuk menu, menggunakan isyarat angka, atau menuliskan tambahan pesanan jika diperlukan. Sistem ini membantu meminimalkan kesalahpahaman sekaligus menciptakan suasana yang lebih inklusif.

Menariknya, di gerai ini tidak terdengar teriakan nomor pesanan. Pelanggan diminta memperhatikan papan pesanan visual—sebuah pengalaman yang membuat ruang makan terasa lebih tertib dan nyaman.

Bekerja karena Mampu, Bukan karena Dikasi Kesempatan

Dalam berbagai keterangan resmi yang pernah disampaikan manajemen Burger King Indonesia, ditegaskan bahwa mempekerjakan penyandang disabilitas bukanlah bentuk belas kasihan. Kebijakan ini didasarkan pada keyakinan bahwa setiap individu memiliki hak dan kemampuan untuk bekerja secara profesional.

Pandangan tersebut juga diperkuat oleh temuan internal perusahaan. Berdasarkan survei kepuasan pelanggan yang dilakukan Burger King Indonesia, gerai yang melibatkan insan tuli justru menunjukkan kinerja yang lebih baik. Hal ini mencerminkan bahwa semangat kerja, ketelitian, dan komitmen para karyawan mampu memberikan dampak positif bagi layanan secara keseluruhan.

Di Makassar, hal ini terlihat dari interaksi yang lebih fokus, pelayanan yang rapi, serta keterlibatan pelanggan yang lebih sadar dan menghargai proses.

Identitas yang Dirayakan, Bukan Disembunyikan

Sebagai bagian dari kampanye inklusivitas, Burger King Indonesia menghadirkan mahkota Sunyi Bersuara di ratusan gerainya. Mahkota ini menampilkan simbol bahasa isyarat dan adaptasi logo Burger King ke dalam Bahasa Isyarat Indonesia (BISINDO).

Selain itu, poster bahasa isyarat sederhana juga dipasang di area gerai untuk membantu pelanggan berinteraksi. Upaya ini tidak hanya memudahkan komunikasi, tetapi juga menjadi sarana edukasi publik bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk saling memahami.

Di Makassar, simbol-simbol kecil ini menjadi penanda bahwa inklusivitas sedang bertumbuh, perlahan namun nyata.

Makna yang Bisa Dipetik dari Gerai Hasanuddin

Dari praktik yang dijalankan di Burger King Hasanuddin Makassar, kita belajar bahwa perubahan sosial tidak selalu datang dari kebijakan besar atau wacana panjang. Kadang, ia tumbuh dari keberanian memberi ruang—ruang untuk bekerja, belajar, dan dihargai.

Gerai ini menunjukkan bahwa kota yang ramah bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga soal cara memperlakukan sesama. Dari tangan-tangan yang bekerja tanpa suara, Makassar mendapatkan pelajaran tentang empati, kesetaraan, dan harapan yang terus hidup.

🌱 Kisah-kisah baik seperti ini terus tumbuh di Sulawesi Selatan.
Mari dukung praktik inklusif, bagikan cerita ini, dan jadilah bagian dari perubahan kecil yang berdampak besar.
Ikuti lebih banyak Berita Baik dari Sulsel di SulselSoul.com.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button