Inspirasi

Kajao Laliddong: La Mellong dari Bone yang Menyalakan Terang Bagi Negeri

Kisah orang Sulsel yang menyalakan semangat dan memberi teladan.

 

Ada sesuatu yang selalu membuat saya terpesona ketika membaca kisah para leluhur Sulawesi Selatan: mereka bukan hanya pemimpin, tetapi penuntun moral. Dari Makassar hingga Luwu, dari Takalar hingga Wajo—selalu ada sosok-sosok yang melampaui zamannya. Namun, di antara nama besar para pemimpin dan panglima, ada satu tokoh yang cahayanya tidak selalu disebut dalam buku sejarah, meski pengaruhnya melandasi tegaknya pemerintahan Bugis ratusan tahun lamanya: Kajao Laliddong.

Nama aslinya La Mellong, pria cerdas dari kampung Laliddong yang kelak dikenal sebagai “bintang cemerlang tanah Ugi”—begitu penyair besar WS Rendra menyebutnya. Ia lahir sekitar tahun 1507, pada masa ketika Kerajaan Bone tengah menghadapi tekanan besar dari hegemoni Gowa. Di usia muda, kecerdasan dan keberaniannya sudah terdengar hingga istana Bone. Dan pada akhirnya, ia dipanggil untuk menjadi penasihat raja, diplomat, dan penuntun tatanan pemerintahan.

Di tengah dunia abad ke-16 yang penuh ketegangan, La Mellong membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada strategi politik: nilai kemanusiaan dan kebijaksanaan yang melampaui zamannya.

Isi – Perjuangan, Nilai, dan Pencapaian

Pemikir Politik yang Mendahului Zamannya

Jika Eropa punya Machiavelli pada abad ke-16, maka Bugis punya La Mellong. Namun, ada perbedaan besar di antara keduanya.
Machiavelli menyingkirkan moral demi kekuasaan.
Sementara Kajao Laliddong justru menjadikan moral sebagai fondasi pemerintahan.

Pemikirannya tentang adat, hukum, yurisprudensi, dan tata negara bukan hanya lengkap, tetapi bahkan—menurut WS Rendra—mendahului “Code Napoleon” yang menjadi acuan hukum modern Eropa.

Pada masa Raja Bone VI dan VII, ia bukan hanya sekadar penasihat. Ia adalah arsitek sistem pemerintahan, pencipta norma, dan negosiator yang menjaga kehormatan Bone dalam perjanjian-perjanjian penting seperti Perjanjian Calleppa dan La Mumpatue Simurung yang mempersatukan aliansi Bone–Wajo–Soppeng.

Fondasi Pemerintahan Bugis: Pangngadereng

La Mellong meletakkan dasar konstitusi Bugis yang disebut Pangngadereng, atau Pangadakkang dalam bahasa Makassar. Sistem norma ini kemudian menjadi pegangan bagi banyak kerajaan di Sulawesi Selatan.

Pangngadereng terdiri atas empat pilar besar:

  1. Ade’ – adat dan norma kehidupan
    • Ade’ pura onro (tetap, tidak mudah diubah)
    • Ade’ abiasang (kebiasaan yang selaras nilai manusia)
    • Ade’ maraja (norma baru mengikuti perkembangan zaman)
  2. Bicara – konsep peradilan
    Di sini, Kajao menekankan bahwa setiap keputusan harus objektif dan berlandaskan hati.
  3. Rapang – yurisprudensi
    Keputusan masa lalu menjadi rujukan, sehingga hukum berjalan konsisten dan jelas.
  4. Wari – pengaturan struktur sosial
    Mengatur posisi, hak, dan kewajiban setiap orang dalam masyarakat.

Pada masa selanjutnya, seiring masuknya Islam, sistem ini berkembang dengan tambahan unsur Sara’ (syariat).

Nilai Kepemimpinan yang Ia Wariskan

Kajao Laliddong tidak hanya menciptakan sistem pemerintahan. Ia membangun karakter pemimpin.

Ia pernah menanamkan enam sifat yang wajib dimiliki raja dan rakyat:

  • Lempu’ – kejujuran
  • Acca – kepandaian
  • Asitinajang – kepatutan
  • Getteng – keteguhan
  • Reso – usaha dan kerja keras
  • Siri’ – harga diri

Ketika Raja Bone bertanya, “Apa tandanya negeri mencapai kejayaan?”, ia menjawab:

“Negeri menjadi jaya jika rajanya jujur dan cerdas, serta rakyatnya bersatu.”

Jawaban pendek, tetapi menyimpan kedalaman filsafat yang luar biasa.

Jejak Demokrasi dari Tanah Bugis

Ini mungkin bagian paling menakjubkan dari pemikiran Kajao Laliddong. Jauh sebelum demokrasi modern membatasi kekuasaan raja dan menempatkan rakyat sebagai pemilik kedaulatan, ia sudah mengatakan:

“Keputusan raja dapat dibatalkan oleh dewan adat, tetapi keputusan dewan adat dapat dibatalkan oleh kehendak rakyat banyak.”

Pernyataan ini, pada abad ke-16, sungguh revolusioner.

Sementara Eropa masih dikuasai raja-raja absolut, Bugis sudah mengenal:

  • pembatasan kekuasaan,
  • checks and balances,
  • dan kedaulatan rakyat.

La Mellong tidak hanya bicara politik. Ia bicara kemanusiaan, moral, dan tanggung jawab pemimpin kepada rakyatnya.

Kecerdikan Diplomat & Penjaga Kedaulatan Bone

Dalam berbagai perjanjian antar kerajaan, ia hadir sebagai juru bicara dan negosiator yang menjaga kehormatan Bone. Ia memahami kapan harus bersikap tegas, kapan harus lentur. Di masa hegemoni Gowa yang kuat, Bone tetap tegak dengan kehendaknya mempertahankan kedaulatan—dan Kajao Laliddong memainkan peran sentral dalam perjuangan itu.

Ia bukan panglima perang.
Bukan pula raja.
Namun pemikirannya mampu mengubah arah sejarah.

Penutup – Refleksi Positif

Di tengah dunia yang serba cepat saat ini, kisah Kajao Laliddong memberi kita ruang untuk berhenti sejenak dan bertanya:

Apa arti menjadi pemimpin?

La Mellong mengajarkan bahwa kekuasaan bukan soal siapa yang paling tinggi duduk di singgasana.
Bukan pula soal suara paling keras dalam ruangan.

Kepemimpinan, katanya, berdiri di atas:

  • kejujuran,
  • kecerdasan,
  • kebijaksanaan,
  • keteguhan,
  • dan keberpihakan kepada rakyat.

Ia menyalakan terang yang tidak padam meski ratusan tahun berlalu.

Sebagaimana pesan moral dari hidupnya:
“Sukses bukan soal siapa yang berkuasa, tetapi siapa yang ikut terbantu dari kuasa itu.”

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button