Inspirasi

Hasdar Haedar: Dari Rappang ke Meja Makan Mahasiswa, Tentang Komitmen yang Tak Pernah Setengah

Berangkat dari Keterdesakan, Bukan Kenyamanan

“Ketika kita sudah berani berkomitmen, maka mekanisme untuk mencapai tujuan itu banyak, meskipun akan merasakan yang namanya berat.”

Kalimat itu bukan sekadar motivasi tempelan. Ia lahir dari perjalanan hidup Hasdar Haedar—pengusaha muda asal Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang—yang memilih bertahan dan bergerak, bahkan ketika hidup tak memberinya banyak pilihan.

Tak banyak mahasiswa Universitas Hasanuddin yang tahu, ayam geprek krispi favorit mereka—Lazuna Chicken—lahir dari kisah jatuh bangun seorang alumnus Fakultas Ekonomi Bisnis Unhas. Di balik meja kasir dan sambal pedas itu, ada cerita tentang keluarga, tanggung jawab, dan keputusan-keputusan sulit yang diambil di usia muda.

Sejak masih berstatus mahasiswa, hidup Hasdar diuji. Ibunya sakit. Usaha sang ayah bangkrut. Ekonomi keluarga terhimpit. Dalam situasi itu, Hasdar mengambil peran sebagai anak sulung: bekerja sambil kuliah, membantu keluarga, dan menunda banyak mimpi pribadinya.

Belajar Tangguh Sejak Bangku Kuliah

Semasa kuliah, Hasdar bekerja di perusahaan kontraktor. Bukan pekerjaan yang glamor, tapi cukup untuk bertahan. Melalui akses keluarga, ia kemudian direkrut sebagai pegawai kontrak di PDAM Kota Makassar.

Namun, tiga tahun berlalu tanpa kepastian status. Regulasi berubah. Ijazah yang dibutuhkan hanya SMA. Masa depan terasa kabur.

“Setelah tiga tahun tidak ada kejelasan saya terangkat jadi pegawai dan regulasi berubah yang diterima ijazahnya itu SMA, apalagi masih ada sepuluh tahun gak jelas nih, akhirnya kepikiran bikin bisnis,” kenangnya.

Di titik itulah, Hasdar mulai memikirkan jalan lain: berusaha.

Gagal Berkali-kali, Tapi Tidak Pulang

Tahun 2017, bersama lima orang temannya, Hasdar mencoba bisnis kuliner berbasis franchise dengan modal sekitar Rp180 juta. Rencana sudah matang, tapi realitas berkata lain. Ada syarat yang tak terpenuhi. Bisnis itu batal sebelum benar-benar berjalan.

Ia tak berhenti. Bersama dua rekan yang tersisa, Hasdar kembali mencoba membangun usaha sendiri dengan segmentasi mahasiswa. Sayangnya, perbedaan visi membuat usaha itu kembali kandas.

Dua kali gagal. Dua kali belajar.

Kali ketiga, Hasdar memilih berjalan lebih hati-hati. Ia mengajak adiknya—sosok yang dinilainya mandiri dan sevisi. Dari modal yang dikumpulkan perlahan, termasuk honor sebagai pegawai kontrak PDAM sekitar Rp25 juta, lahirlah Lazuna Chicken pada 21 November 2018.

Lazuna: Nama Iseng yang Jadi Berkah

Menariknya, nama “Lazuna” justru lahir dua malam sebelum pembukaan kedai pertama di Jalan Perintis Kemerdekaan 8.

Terinspirasi dari kata lasuna dalam bahasa Bugis—yang berarti bawang atau rempah—Hasdar mengubah huruf s menjadi z agar terdengar lebih modern.

“Awalnya iseng-iseng saja. Tapi ternyata malah jadi berkah,” ujarnya.

Nama boleh spontan, tapi konsep bisnis tidak. Ide ayam geprek krispi sudah lama dipikirkan. Hasdar melakukan riset sederhana: mengamati kebiasaan makan masyarakat, menghitung omset pedagang kaki lima, dan membaca tren kuliner di Pulau Jawa yang saat itu belum masuk Makassar.

Lazuna pun hadir sebagai pelopor ayam geprek krispi di Makassar—dengan definisi khas: ayam dicampur langsung dengan sambal, bukan sekadar diolesi.

Dari Satu Kedai ke 21 Outlet

Persaingan datang cepat. Banyak brand serupa bermunculan. Tapi Lazuna bertahan—bahkan tumbuh—berkat resep yang konsisten, pemasaran yang tepat, dan segmentasi pasar yang jelas.

Hari ini, Lazuna Chicken telah berkembang menjadi 21 outlet yang tersebar di Makassar dan Gowa. Menu pun terus berinovasi: dari sambal pedas untuk pecinta geprek, saus beragam untuk ayam krispi, hingga menu manis seperti Naice Cream.

Lazuna juga beberapa kali meraih penghargaan. Dalam ajang kuliner tahunan di Hotel Four Points Makassar (17 September 2025), Lazuna memperoleh 45,59 persen suara sebagai ayam krispi favorit dan 58,82 persen sebagai ayam geprek favorit. Tak hanya itu, Lazuna juga menyabet predikat Top Merchant GoFood kategori krispi geprek nomor satu.

Bisnis Boleh Naik Turun, Tanggung Jawab Tetap Jalan

Kesuksesan tak datang tanpa badai. Selama lima tahun perjalanan Lazuna, Hasdar mengaku menghadapi banyak masalah—baik internal maupun eksternal. Ada masa lelah. Ada fase ingin menyerah.

Namun, ia selalu kembali pada satu hal: tanggung jawab.

Kini, Lazuna membuka lapangan kerja bagi lebih dari 100 orang. Enam cabang aktif menjadi sumber penghidupan banyak keluarga. Dari situlah Hasdar tahu, menyerah bukan lagi pilihan pribadi—ada banyak orang yang ikut bergantung.

Zunavers dan Dampak yang Lebih Luas

Pelanggan setia Lazuna—yang disebut Zunavers—menjadi bagian penting dari pertumbuhan brand ini. Dalam berbagai kesempatan, Hasdar tak lupa menyampaikan rasa syukur.

“Alhamdulillah, tahun ini berkat dukungan Zunavers, kita kembali menerima amanah sebagai ayam krispi dan geprek terfavorit. Semoga ke depan Lazuna dapat terus memberikan dampak positif bagi warga Makassar,” ujarnya, dikutip dari unggahan Instagram resmi Lazuna Chicken.

Di media sosial, Hasdar aktif membagikan semangat kewirausahaan. Pesannya sederhana: jangan takut memulai dari kecil.

Refleksi: Komitmen yang Membuka Jalan

Dari kisah Hasdar Haedar, satu hal terasa jelas: sukses bukan hasil keberuntungan semata. Ia lahir dari keberanian berkomitmen, kesediaan gagal, dan kemauan belajar tanpa henti.

Bagi Hasdar, memulai jauh lebih penting daripada menunggu sempurna. Belajar kapasitas diri, beraksi, dan memanfaatkan ruang-ruang kecil—seperti organisasi kampus dan program mahasiswa—adalah langkah nyata yang pernah ia jalani sendiri.

Baginya, sukses bukan soal sampai di puncak sendirian, tapi tentang berapa banyak orang yang ikut terbantu di perjalanan. Dan dari Rappang ke Makassar, dari satu kedai kecil hingga puluhan outlet, Hasdar Haedar telah membuktikan: komitmen yang dijaga dengan rendah hati bisa menyalakan harapan banyak orang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button