Muhammad Rais Hajat dan Sekolah Gratis Bantaeng
Kisah orang-orang Sulsel yang menyalakan semangat dan memberi teladan
Muhammad Rais Hajat mungkin bukan tokoh yang sering tampil di layar televisi nasional. Ia lahir dan tumbuh di Dusun Saukang, Desa Bajiminasa, Kecamatan Gantarangkeke, Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan—wilayah yang lebih akrab dengan kebun dan jalan tanah daripada gedung bertingkat.
Namun justru dari pelosok itulah ia menyalakan cahaya.
Bukan cahaya yang gemerlap, melainkan cahaya sederhana bernama pendidikan gratis.
Perjalanan Seorang Anak Desa yang Memilih Kembali
Lahir pada 1986, Rais tumbuh dalam keterbatasan akses pendidikan. Anak-anak di kampungnya harus berjalan berkilo-kilo meter melewati perkebunan untuk sampai ke sekolah. Jalan yang sunyi, medan yang berat, dan kadang ancaman binatang liar menjadi bagian dari rutinitas.
Ia sendiri pernah merasakan sulitnya akses itu.
Setelah menyelesaikan pendidikan Diploma 2 pada 2007, ia dihadapkan pada pertanyaan sederhana dari dosennya: apa yang akan ia lakukan setelah lulus?
Saat itu, jawabannya belum jelas. Namun hatinya terusik oleh sebuah film yang begitu membekas, yaitu Laskar Pelangi. Kisah anak-anak Belitung yang belajar di bangunan reyot, tetapi tetap penuh semangat, seperti memanggilnya pulang.
Jika mereka bisa berjuang di tengah keterbatasan, mengapa anak-anak di Bajiminasa tidak?
Titik baliknya datang dari momen yang nyaris sepele. Sepulang dari undangan bakar jagung, ia bertemu seorang anak kelas 4 SD yang menunggu temannya hingga sore. Anak itu tidak berani pulang sendiri karena harus melewati kebun terpencil yang sering dilewati babi hutan.
Rais terdiam.
Ia sadar, pendidikan tidak seharusnya menjadi perjalanan yang menakutkan.
Perjuangan Mendirikan Sekolah dari Tanah Berdebu
Berbekal tekad dan empati, Rais mulai mendata anak-anak yang putus sekolah. Ia menemukan sekitar 30 anak yang tidak lagi belajar karena jarak, biaya, atau keadaan keluarga.
Data dari Badan Pusat Statistik saat itu juga menunjukkan partisipasi sekolah di Bantaeng masih rendah, terutama di jenjang SMP dan SMA. Fakta itu semakin menguatkan tekadnya.
Pada 2008, ia mendirikan MI Cendekia Saukang.
Bangunannya sederhana. Lantainya tanah. Dindingnya papan kayu. Atapnya anyaman. Meja dan kursinya tidak seragam.
Namun semangat anak-anak jauh lebih kokoh daripada dinding kayu itu.
“Saya melihat dan percaya, dalam diri mereka ada masa depan yang cerah,” ujar Rais suatu ketika.
Ia tidak berhenti di situ. Tahun 2010 berdiri MTs Cendekia Saukang. Tiga tahun kemudian, MA Cendekia Saukang menyusul. Semua berada di bawah naungan Yayasan Pendidikan Al Hikmah.
Ia juga menghadirkan pendidikan vokasi seperti menjahit dan teknisi komputer agar siswa memiliki bekal nyata untuk hidup mandiri.
Perjalanan ini tidak selalu mulus. Sekolahnya pernah dicemooh sebagai “sekolah tengah hutan.” Ada yang meragukan legalitasnya. Ada yang menganggapnya tidak akan bertahan lama.
Namun Rais memilih diam dan bekerja.
Perlahan, hasilnya terlihat. Orang tua mulai percaya. Masyarakat bergotong royong. Manfaatnya dirasakan hingga lima desa sekitar.
Pendidikan untuk Semua Usia dan Dampak Nyata
Bagi Rais, pendidikan bukan hanya untuk anak-anak.
Ia mengembangkan PAUD dan TK Insan Mubarak, PKBM Insan Carrade, serta LKP Jasmin Celebes. Melalui program keaksaraan dasar, ratusan warga lanjut usia belajar membaca untuk pertama kalinya dalam hidup mereka.
Beberapa lulusan Paket C bahkan berhasil bekerja di sektor pemerintah maupun swasta.
Prinsipnya sederhana namun kuat: tidak boleh ada yang putus sekolah karena biaya.
Ia pernah membagi gajinya sendiri untuk operasional sekolah. Kini, dukungan swadaya masyarakat dan program pemerintah ikut menopang keberlanjutan sekolah-sekolah tersebut.
Dedikasinya mendapat pengakuan nasional ketika ia meraih Semangat Astra Terpadu Untuk Indonesia Awards tahun 2021 kategori pendidikan.
Namun baginya, penghargaan itu bukan tentang dirinya.
“Ini bukan milik saya pribadi. Ini milik masyarakat Bajiminasa yang bersama-sama menjaga api pendidikan tetap menyala,” ungkapnya.
Refleksi: Cahaya Itu Bernama Kepedulian
Kisah Muhammad Rais Hajat mengajarkan bahwa perubahan tidak selalu lahir dari pusat kota atau kebijakan besar. Ia bisa tumbuh dari percakapan sederhana dengan seorang anak yang takut berjalan sendirian.
Ia menunjukkan bahwa empati bisa menjadi energi terbesar untuk membangun peradaban.
Sekolah yang ia dirikan bukan sekadar ruang kelas, melainkan ruang harapan. Dari tanah berdebu, lahir mimpi-mimpi besar.
Baginya, sukses bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi tentang seberapa banyak tangan yang bisa kita gandeng dalam perjalanan.
Dan di Bajiminasa, cahaya itu masih terus menyala.
